Artikel HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia | 17 Agustus 2026
Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneguhkan kembali komitmen untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dan pengabdian kepada masyarakat.
Di Kota Makassar, semangat perjuangan tersebut memiliki jejak yang kuat pada sebuah rumah ibadah yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu Masjid Raya Makassar.
Masjid Raya Makassar bukanlah masjid yang telah berdiri ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Masjid ini lahir beberapa tahun setelahnya, tepatnya dalam periode ketika bangsa Indonesia masih menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, hubungan Masjid Raya Makassar dengan kemerdekaan Indonesia bukan terletak pada peristiwa Proklamasi itu sendiri, melainkan pada konteks perjuangan yang melatarbelakangi kelahirannya serta peran masyarakat dan tokoh-tokoh di sekitarnya dalam mempertahankan semangat kemerdekaan.
Lahir pada Masa Perjuangan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri seluruh perjuangan bangsa Indonesia.
Di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan, masyarakat masih menghadapi upaya kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Situasi tersebut membuat perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berlangsung setelah Proklamasi.
Dalam suasana itulah gagasan pembangunan Masjid Raya Makassar muncul.
Pembangunan masjid diprakarsai oleh KH Ahmad Bone pada tahun 1947, seorang ulama yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan kehidupan keislaman masyarakat. Panitia pembangunan kemudian diketuai oleh KH Muchtar Luthfi, yang juga merupakan tokoh ulama dan pejuang pada masa tersebut.
Catatan penelitian sejarah yang menjadi salah satu referensi mengenai Masjid Raya Makassar menyebutkan bahwa pembangunan diawali dengan dana sebesar Rp60.000 dan kemudian berkembang melalui dukungan serta gotong royong masyarakat Islam Makassar.
Peletakan batu pertama tercatat dilakukan pada 25 Maret 1947 dan dihadiri sejumlah tokoh penting pada masa itu.
Dua tahun kemudian, Masjid Raya Makassar diresmikan. Penelitian tersebut mencatat tanggal 25 Mei 1949,
KH Muchtar Luthfi dan Semangat Perjuangan
Nama KH Muchtar Luthfi tidak dapat dipisahkan dari sejarah awal Masjid Raya Makassar.
Beliau bukan hanya menjadi ketua panitia pembangunan masjid, tetapi juga dikenal sebagai ulama dan tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Islam di Makassar dan Sulawesi Selatan.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pengaruh KH Muchtar Luthfi semakin kuat melalui khutbah-khutbahnya di berbagai masjid. Sikapnya yang tegas dalam persoalan kebangsaan kemudian membuat pemerintah kolonial Belanda memberikan perhatian terhadap aktivitasnya.
Dalam kehidupan politik pada masa Negara Indonesia Timur, KH Muchtar Luthfi juga tercatat memperjuangkan simbol-simbol kebangsaan Indonesia, termasuk bendera Merah Putih dan lagu Indonesia Raya.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan identitas kebangsaan pada masa itu juga berlangsung melalui ruang-ruang keagamaan dan kemasyarakatan.
Masjid menjadi tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi, mendengarkan khutbah, serta membangun kesadaran bersama.
Masjid Raya sebagai Simbol Persatuan Umat
Sejak awal berdirinya, Masjid Raya Makassar memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah.
Penelitian mengenai sejarah Masjid Raya mencatat bahwa keberadaan masjid memberikan pengaruh besar bagi masyarakat Islam Makassar. Masjid tersebut menjadi lambang dan syiar persatuan masyarakat Islam, sekaligus menjadi tempat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepentingan umat.
Fungsi tersebut memiliki arti penting dalam konteks masa perjuangan.
Pada saat bangsa Indonesia masih berusaha mempertahankan kemerdekaannya, persatuan masyarakat merupakan kekuatan yang sangat penting.
Masjid menjadi salah satu ruang yang mempertemukan ulama, tokoh masyarakat, pemuda dan jamaah dalam semangat kebersamaan.
Karena itulah Masjid Raya Makassar kemudian dikenal dalam berbagai catatan sebagai salah satu masjid perjuangan.
Ketika Masjid Menjadi Bagian dari Perjuangan
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa terdapat upaya untuk menghalangi pembangunan Masjid Raya Makassar pada masa tersebut.
Namun, para pejuang dan masyarakat mempertahankan serta melindungi proses pembangunan masjid.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan sebuah rumah ibadah pada masa itu tidak hanya memiliki makna keagamaan.
Masjid menjadi simbol keberadaan masyarakat Islam sekaligus ruang untuk memperkuat persatuan.
Dalam konteks inilah Masjid Raya Makassar memiliki hubungan erat dengan perjalanan perjuangan masyarakat di masa awal kemerdekaan.
Pengorbanan KH Muchtar Luthfi
Semangat perjuangan tersebut memiliki konsekuensi yang tidak ringan.
Pada 4 Agustus 1950, KH Muchtar Luthfi menyampaikan khutbah Jumat yang menyerukan masyarakat Islam Makassar, terutama para pemuda, untuk menentang keberadaan NICA. Khutbah tersebut bahkan disiarkan melalui radio Makassar.
Sehari kemudian, pada 5 Agustus 1950, KH Muchtar Luthfi meninggal dunia setelah ditembak oleh pasukan NICA di kediamannya.
Jenazahnya kemudian disalatkan oleh masyarakat Islam di Masjid Raya Makassar sebelum dimakamkan di Pemakaman Arab Bontoala.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Masjid Raya Makassar.
Masjid yang ia bantu bangun kemudian menjadi tempat masyarakat memberikan penghormatan terakhir kepadanya.
Dengan demikian, sejarah Masjid Raya tidak hanya berbicara tentang bangunan, tetapi juga tentang manusia, pengorbanan, dan nilai perjuangan yang menyertainya.
Dari Masjid Perjuangan Menjadi Pusat Kehidupan Umat
Setelah melewati masa-masa awal perjuangan, Masjid Raya Makassar terus berkembang.
Fungsinya semakin luas. Masjid tidak hanya menjadi tempat salat dan kegiatan keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai ruang pendidikan, dakwah, sosial, dan kemasyarakatan.
Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Raya juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan penting umat Islam di Sulawesi Selatan.
Salah satu catatan sejarah menyebutkan bahwa Masjid Raya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pada 1955. Masjid ini juga pernah menjadi tempat Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, melaksanakan salat Jumat pada 1957.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa fungsi Masjid Raya terus berkembang seiring perubahan masyarakat dan zaman.
Renovasi Tahun 1978
Setelah berdiri selama hampir tiga dekade, kondisi fisik Masjid Raya mulai membutuhkan perbaikan.
Pada 1978, dilakukan renovasi untuk memperbaiki bagian-bagian bangunan yang mengalami kerusakan akibat usia. Renovasi tersebut belum mengubah bentuk asli masjid secara signifikan. Perbaikan terutama dilakukan terhadap bagian bangunan yang sudah mengalami kerusakan, termasuk atap.
Renovasi ini menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan fisik Masjid Raya Makassar sebelum kemudian dilakukan pembangunan kembali secara besar-besaran pada akhir 1990-an.
Pembangunan Kembali Masjid Raya Makassar Tahun 1999
Memasuki akhir 1990-an, kebutuhan masyarakat terhadap sebuah masjid yang lebih representatif semakin besar.
Bangunan lama dinilai tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan perkembangan jamaah dan aktivitas umat.
Akhirnya, diputuskan untuk melakukan pembangunan kembali dengan perubahan besar terhadap bentuk dan kapasitas bangunan.
Pada 9 Oktober 1999, peletakan batu pertama pembangunan kembali Masjid Raya Makassar dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan Zainal Basri Palaguna.
Pembangunan tersebut berlangsung dalam situasi ekonomi yang tidak mudah. Krisis moneter yang melanda Indonesia turut memengaruhi proses pembangunan dan menyebabkan kebutuhan biaya meningkat.
Namun, pembangunan tetap dilanjutkan hingga akhirnya menghasilkan wajah baru Masjid Raya Makassar.
Gotong Royong Membangun Kembali Masjid
Pembangunan kembali Masjid Raya Makassar juga memperlihatkan kembali semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari sejarah masjid sejak awal berdirinya.
Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, jamaah, serta pihak swasta.
Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam proses pembangunan kembali tersebut adalah H. M. Jusuf Kalla.
Total biaya renovasi tercatat sekitar Rp25 miliar, dengan sekitar 72 persen atau sekitar Rp18 miliar berasal dari keluarga besar Jusuf Kalla.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari proses transformasi Masjid Raya Makassar menjadi bangunan yang lebih besar dan representatif.
Semangatnya memiliki kemiripan dengan pembangunan awal masjid pada 1947: sebuah masjid dapat tumbuh ketika berbagai elemen masyarakat bersedia mengambil bagian.
Peresmian Kembali Tahun 2005
Setelah melalui proses pembangunan kembali selama beberapa tahun, Masjid Raya Makassar memasuki babak baru.
Pada 25 Mei 2005, Masjid Raya Makassar diresmikan kembali oleh Wakil Presiden Republik Indonesia H. M. Jusuf Kalla, sebagaimana dicatat sejumlah sumber sejarah dan pemberitaan.
Namun terdapat pula pemberitaan sezaman yang mencatat 27 Mei 2005 sebagai tanggal peresmian penggunaan masjid.
Perbedaan pencatatan ini penting dicatat secara terbuka agar sejarah Masjid Raya Makassar tidak disederhanakan secara sembarangan.
Yang jelas, tahun 2005 menjadi tonggak penting dalam sejarah modern Masjid Raya Makassar, karena pembangunan kembali telah selesai dan masjid mulai digunakan dengan wajah baru yang jauh lebih representatif.
Wajah Baru Masjid Raya Makassar
Pembangunan kembali tersebut mengubah secara signifikan wajah Masjid Raya Makassar.
Jika bangunan awal memiliki desain yang dikenal menyerupai bentuk pesawat, bangunan baru tampil dengan arsitektur yang lebih megah dengan pengaruh arsitektur Islam Timur Tengah dan Mediterania.
Masjid yang sekarang terdiri dari dua lantai dan memiliki kapasitas sekitar 10.000 jamaah. Bangunan ini juga memiliki dua menara dengan ketinggian sekitar 66,66 meter serta berbagai fasilitas pendukung kegiatan umat.
Namun, perubahan fisik tersebut tidak menghapus sejarah yang telah melekat pada Masjid Raya.
Justru sebaliknya.
Bangunan baru menjadi wadah bagi sejarah lama untuk terus hidup.
Menjaga Warisan Sejarah
Salah satu unsur penting dari sejarah Masjid Raya Makassar adalah keberadaan menara lama yang tetap dipertahankan dalam pembangunan kembali.
Menara tersebut menjadi pengingat bahwa di balik bangunan Masjid Raya yang megah hari ini terdapat perjalanan panjang yang telah dimulai sejak 1947.
Ia menjadi simbol kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.
Bangunan boleh berubah.
Arsitektur boleh berkembang.
Kebutuhan jamaah boleh bertambah.
Tetapi nilai perjuangan dan pengabdian kepada umat harus tetap dipertahankan.
Dari Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Menuju Membangun Peradaban
Jika dahulu masyarakat berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan, maka tantangan umat hari ini telah berubah.
Perjuangan hari ini adalah melawan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, keterbelakangan, dan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat.
Masjid memiliki posisi strategis untuk mengambil bagian dalam perjuangan tersebut.
Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah ritual.
Masjid juga dapat menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, filantropi, pelayanan sosial, pembinaan generasi muda, serta ruang untuk memperkuat persaudaraan.
Semangat inilah yang relevan untuk diteruskan oleh Masjid Raya Makassar.
Dari Masjid Perjuangan menuju Pusat Peradaban Umat.
Memaknai Kemerdekaan dari Masjid
Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus bukan hanya sebuah peristiwa sejarah.
Kemerdekaan adalah amanah.
Amanah untuk menjaga persatuan.
Amanah untuk membangun bangsa.
Amanah untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Dan amanah untuk memastikan bahwa generasi berikutnya dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks tersebut, Masjid Raya Makassar memiliki tanggung jawab untuk meneruskan semangat para pendahulunya.
Jika generasi terdahulu membangun masjid di tengah situasi perjuangan yang penuh ketidakpastian, maka generasi sekarang memiliki tugas untuk menghidupkan masjid dan menjadikannya semakin bermanfaat bagi umat.
Semangat perjuangan tidak harus diwujudkan dengan cara yang sama.
Yang harus diwariskan adalah nilai-nilainya: persatuan, keberanian, pengorbanan, gotong royong, kepedulian, keikhlasan, dan kecintaan kepada tanah air.
81 Tahun Indonesia Merdeka
Pada 17 Agustus 2026, Indonesia memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi Masjid Raya Makassar, momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan panjang sebuah rumah ibadah yang telah melewati berbagai fase sejarah bangsa.
Dari gagasan KH Ahmad Bone pada 1947.
Dari perjuangan KH Muchtar Luthfi dan para tokoh masyarakat.
Dari pembangunan dan gotong royong masyarakat Makassar.
Dari perjalanan panjang sejak 1949.
Dari renovasi pada 1978.
Dari pembangunan kembali yang dimulai pada 1999.
Hingga peresmian kembali pada 2005.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Masjid Raya Makassar.
Masjid Raya bukan hanya bangunan yang berdiri di tengah Kota Makassar. Ia adalah bagian dari memori kolektif masyarakat, saksi perjalanan umat, dan ruang yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Karena itu, memperingati kemerdekaan dari Masjid Raya Makassar bukan sekadar mengenang masa lalu.
Lebih dari itu, momentum kemerdekaan adalah ajakan untuk melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang baru.
Jika dahulu perjuangan adalah mempertahankan kemerdekaan, maka perjuangan hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan kebermanfaatan.
Membangun generasi yang berilmu.
Membantu masyarakat yang membutuhkan.
Menguatkan ekonomi umat.
Menumbuhkan kepedulian sosial.
Memperkuat persaudaraan.
Dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat yang membawa rahmat bagi seluruh masyarakat.
Dari Masjid Perjuangan, Menuju Pusat Peradaban Umat
Perjalanan Masjid Raya Makassar mengajarkan bahwa sebuah masjid tidak hanya dibangun dengan batu, semen, dan struktur bangunan.
Masjid dibangun dengan iman, kepedulian, pengorbanan, gotong royong, dan cita-cita untuk menghadirkan kebaikan.
Semangat itulah yang telah mengiringi perjalanan Masjid Raya Makassar sejak awal pembangunannya hingga hari ini.
Maka, di momentum 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, mari kita lanjutkan perjuangan para pendahulu melalui karya dan pengabdian.
Karena kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan.
Kemerdekaan adalah awal dari tanggung jawab untuk membangun peradaban.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81
17 AGUSTUS 2026
Indonesia Merdeka. Indonesia Bersatu. Indonesia Berdaya.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, memperkuat persatuan bangsa, serta menjadikan Indonesia negeri yang berdaulat, adil, makmur, dan penuh keberkahan.
Masjid Raya Makassar
Pusat Peradaban Umat, Menebar Manfaat dan Rahmat.





