MASJIDRAYA-MAKASSAR.ID – Pelaksanaan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan di Masjid Raya Makassar menunjukkan dinamika baru yang cukup menarik perhatian. Jika sebelumnya kegiatan ini lebih banyak diikuti oleh jamaah usia dewasa dan lanjut, kini justru didominasi oleh kalangan generasi muda. Fenomena ini terlihat jelas dari komposisi jamaah yang hadir, di mana sekitar 40 persen di antaranya berasal dari generasi Z atau kelompok usia muda.
Kehadiran generasi muda dalam jumlah besar menjadi indikator adanya pergeseran pola keberagamaan di tengah masyarakat. Masjid yang selama ini kerap diasosiasikan sebagai ruang ibadah bagi kalangan tertentu, kini kembali menjadi magnet bagi anak muda. Mereka tidak hanya hadir untuk mengikuti ibadah wajib, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan i’tikaf yang berlangsung sepanjang malam, mulai dari salat Isya, tarawih, hingga tahajud dan sahur bersama.
Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, generasi Z mulai mencari ruang yang memberikan ketenangan sekaligus makna spiritual. I’tikaf di masjid menjadi salah satu pilihan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Selain sebagai bentuk ibadah, aktivitas ini juga menjadi sarana refleksi diri serta kesempatan untuk menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia digital yang setiap hari mereka hadapi.
Di Masjid Raya Makassar, suasana i’tikaf terasa semakin hidup dengan kehadiran anak-anak muda yang memenuhi saf-saf masjid. Mereka datang secara berkelompok maupun individu, bahkan banyak yang memilih untuk menghabiskan malam secara penuh di dalam masjid. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, tetapi juga membangun kebersamaan di antara sesama jamaah. Interaksi sosial yang terjalin selama i’tikaf, seperti berbagi sahur dan berdiskusi ringan, menciptakan pengalaman yang lebih bermakna dibandingkan interaksi virtual di media sosial.
Pengurus Masjid Raya Makassar, Irfan Sanusi Baco, menilai bahwa dominasi generasi Z dalam kegiatan i’tikaf merupakan perkembangan yang sangat positif. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa masjid masih relevan sebagai pusat pembinaan umat, khususnya bagi kalangan muda. Ia menyebutkan bahwa tingginya partisipasi anak muda menjadi sinyal kuat bahwa nilai-nilai keagamaan tetap memiliki tempat di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa pihak pengurus terus berupaya menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif agar jamaah, terutama generasi muda, dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Berbagai fasilitas dan program pendukung disiapkan untuk menunjang kegiatan i’tikaf, mulai dari pengaturan area ibadah hingga penyediaan konsumsi sahur. Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan masjid dapat menjadi ruang yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.
Fenomena meningkatnya keterlibatan generasi Z dalam i’tikaf juga tidak lepas dari pengaruh media sosial. Berbagai konten yang menampilkan suasana i’tikaf di masjid turut mendorong minat anak muda untuk ikut serta. Namun demikian, partisipasi mereka tidak semata-mata didorong oleh tren, melainkan juga oleh kebutuhan akan ketenangan batin dan pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Dengan komposisi jamaah yang semakin beragam, Masjid Raya Makassar menunjukkan perannya sebagai pusat aktivitas keagamaan yang dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kehadiran generasi muda dalam jumlah signifikan tidak hanya memperkaya suasana ibadah, tetapi juga menjadi harapan baru bagi keberlanjutan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan sosial umat Islam.
Ke depan, fenomena ini berpotensi menjadi momentum penting dalam memperkuat peran masjid sebagai ruang pertemuan lintas generasi. Dengan pendekatan yang tepat, keterlibatan generasi Z dapat terus ditingkatkan sehingga i’tikaf tidak hanya menjadi ibadah musiman, tetapi juga bagian dari gaya hidup spiritual yang berkelanjutan di kalangan masyarakat modern.

