MASJIDRAYA-MAKASSAR.ID – Masjid Raya Makassar menggelar pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah dengan penuh khidmat dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kota Makassar. Bertindak sebagai Khatib Salat Ied adalah KH. D. Zawawi Imran ulama dan penyair kharismatik asal Madura, Jawa Timur dengan tema khutbah “TAUHID: Kunci Bahagia Dunia Akhirat”, sementara imam Salat Ied dipimpin oleh Muhammad Syahril, M.HI selaku Imam Masjid Raya Makassar.

Dalam khutbah dan ceramah hikmah Idul Adha, KH. D. Zawawi Imran yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mifrahul Ulum mengajak jamaah untuk memperkuat tauhid dan merenungi kebesaran ciptaan Allah SWT melalui luasnya alam semesta.

Ajak Jamaah Renungi Besarnya Alam Semesta
Dalam penyampaiannya, KH. D. Zawawi Imran menjelaskan bahwa manusia hanyalah makhluk kecil di tengah luasnya ciptaan Allah SWT. Bumi yang ditempati manusia hanyalah sebagian kecil dari miliaran planet dan galaksi yang ada di alam semesta.
Beliau menggambarkan jauhnya jarak antarbintang, antarplanet, hingga antargalaksi sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas.
“Semakin manusia mempelajari alam semesta, maka semakin terlihat kebesaran Allah SWT. Bumi ini kecil, manusia juga kecil, sehingga tidak ada alasan untuk sombong di hadapan Allah,” ujar beliau di hadapan jamaah Salat Iduladha.
KH. D. Zawawi Imran juga menyampaikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern justru semakin menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Cahaya dari sebagian galaksi bahkan membutuhkan jutaan hingga miliaran tahun untuk mencapai bumi.
Melalui penjelasan tersebut, jamaah diajak untuk memperkuat tauhid, meningkatkan rasa syukur serta menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Jadi Teladan Keikhlasan
Selain membahas kebesaran alam semesta, KH. D. Samawi Imron juga menyampaikan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menjadi inti hikmah Idul Adha.
Beliau mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS sebagai bentuk ujian keimanan dan ketakwaan.
Dengan penuh ketaatan, Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah tersebut. Sementara Nabi Ismail AS menerima ketentuan Allah SWT dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Namun saat perintah itu hendak dijalankan, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail AS dengan seekor hewan sembelihan. Peristiwa tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha.
Menurut KH. D. Samawi Imron, makna kurban tidak hanya sebatas menyembelih hewan, tetapi juga tentang mengorbankan sifat egois, kesombongan serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.
“Idul Adha mengajarkan manusia untuk lebih taat kepada Allah SWT, ikhlas dalam berkorban dan peduli kepada sesama,” jelas beliau.


Idul Adha Jadi Momentum Memperkuat Kepedulian Sosial
Pelaksanaan Salat Idul Adha dan ceramah hikmah Idul Adha di Masjid Raya Makassar berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kota Makassar.
Momentum Idul Adha diharapkan menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan kepedulian sosial melalui ibadah kurban dan semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan syiar Islam yang rutin dilaksanakan di Masjid Raya Makassar juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang menyejukkan, memperkuat spiritualitas umat dan membangun semangat kebersamaan di tengah masyarakat.





